Thursday, 29 May 2014

“Mata Allah Tidak Pernah lelah” (Kis. 16:16-36)


“Mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”Ul. 11:12


Satu hal yang seringkali kita lupa adalah bahwa Allah senantiasa bekerja dan campur tangan dalam segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Allah memelihara dunia ini dan matanya tidak pernah lelah mengawasi kita (Ul. 11:12). Apapun yang terjadi semua ada di dalam pengijinan-Nya, mungkin kita tidak menghendakinya namun jika itu tetap terjadi semua ada di dalam kontrol dan pengijinan-Nya.
Paulus dan Silas bersama para rasul lainnya dengan giat menjalankan perintah Yesus untuk menjadi saksi-Nya, sekalipun berhasil karena orang percaya semakin banyak namun tantangan dan pencobaan juga semakin menekan mereka. Dalam perikop ini kita melihat Paulus dan Silas diintimidasi oleh kuasa setan yang bekerja dalam diri seorang perempuan. Dalam keadaan seperti Allah menolong Paulus dengan membebaskan perempuan tersebut dari kuasa setan.
Namun permasalahan lain muncul karena orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari perempuan tersebut menangkap, menganiaya serta memasukan Paulus dan Silas ke penjara dengan penjagaan yang sangat ketat. Dan dalam kesempatan tersebut Allah membebaskan Paulus dan Silas dengan cara-Nya yang ajaib bahkan dalam kesempatan tersebut Kepala penjara bertobat dan menjadi orang percaya termasuk seluruh isi rumahnya dan dibaptis.
Dimanakah Allah ketika kesulitan dan persoalan sedang menghimpit kita? Ia ada bersama dengan kita, mata-Nya tidak pernah lepas memperhatikan kita. Ujian dan pencobaan seharusnya tidak membuat iman kita menjadi lemah, tapi sebaliknya justru membuat kita semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Paulus dan Silas tetap berdoa, memuji dan menyembah Allah dalam situasi yang sulit, yang mana hal ini membuktikan bahwa mereka tetap bersandar dan berserah kepada Tuhan. Iman mereka tidak menjadi lemah, tetap percaya sekalipun bahaya mengancam jiwanya.

Kepercayaan, ketulusan dan semangat Paulus dan Silas di dalam mengikut Tuhan sudah seharusnya menjadi teladan bagi kita. Tetap semangat mengikut Tuhan dan tidak menyerah sekalipun badai menerpa kita. Dan biarkan Allah bekerja dalam setiap kesempatan untuk menggenapi rencana-Nya. Amin.

Friday, 23 May 2014

“Roh Kudus dan Pemberitaan Injil” (Kis. 16:4-15)


“Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.”
Kis. 16:14
Perikop yang kita baca mengingatkan bahwa Roh Kudus sangat berperan di dalam semua pelayanan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para rasul. Roh Kudus melarang mereka memberitakan Injil di Asia (6), dan Bitinia (7), Roh Kudus memberikan penglihatan kepada Paulus untuk menyeberang ke Makedonia (9) dan yang terakhir Roh Kudus membuka hati Lidia untuk memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus, sehingga Lidia menjadi orang percaya dan dibaptis.
Beberapa saat sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, Ia memberitahu murid-murid bahwa Roh Kudus akan menggantikan diri-Nya sebagai Penolong yang akan menyertai dan diam di dalam mereka selama-lamanya (Yoh. 14:6,7). Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus akan menolong pemberitaan Injil, karena Roh Kudus berperan untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman akan dosa (Yoh. 16:8,9), Roh Kudus yang juga disebut sebagai Roh Kebenaran akan memimpin kepada kebenaran (Yoh. 16:13).
Kita harus mengucap syukur karena di dalam menjalankan tugas utama kita sebagai saksi Kristus, kita tidak pernah ditinggal sendirian; Roh Kudus menyertai dan memimpin kita sesuai dengan yang dijanjikan Yesus. Tingkat keberhasilan di dalam menjadi saksi Kristus tergantung semuanya kepada Roh Kudus. Tugas kita adalah menjadi saksi Kristus dengan memberitakan Yesus sesuai dengan yang dituliskan di dalam Alkitab, dan Roh Kudus akan melakukan bagian-Nya. Dengan demikian maka kita tidak perlu berputus asa jika seakan-akan kita tidak memenangkan satu jiwapun. Seseorang diselamatkan bukan karena kehebatan kita di dalam memberitakan Injil atau jerih payah kita melainkan karena Roh Kudus membuka hati dan menginsafkan seseorang, seperti yang dilakukan-Nya terhadap Lidia.
 Mari kita menjalankan tugas panggilan kita yaitu menyaksikan Kristus dengan memberitakan Injil sesuai dengan yang Alkitab tuliskan dan memohon pimpinan dan penyertaan Roh Kudus untuk membuka hati dan menginsafkan orang-orang yang mendengarkan Injil yang kita beritakan. Tuhan memberkati.


Friday, 16 May 2014

“Melibatkan Roh Kudus” (Kis.15:22-35)


“Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu;  sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
1Yoh 4:4
Bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan merupakan pengalaman yang pasti pernah dialami oleh setiap orang. Bingung adalah sebuah kondisi dimana terjadi situasi yang ‘stuck’ dimana tidak bisa mengambil keputusan atau mencari jalan yang mana. Bingung untuk bekerja dimana? Sekolah dimana? Memilih pasangan hidup? Bingung masak apa? Bingung liburan kemana? Dan masih banyak lagi kebingungan lainnya. Dalam banyak hal ada banyak kebingungan yang memerlukan keputusan yang tepat karena sangat menentukan masa depan kita.
Hal inilah yang terjadi di jemaat mula-mula, dimana ketika itu jemaat bingung akan adanya pengajaran yang bertentangan dengan apa yang para rasul ajarkan, dan tentu saja jika tidak segera dibereskan akan membawa dampak bagi masa depan gereja. Menghadapi situasi seperti ini, para rasul melibatkan pertolongan Roh Kudus. Ayat 28 (NKV), memberi tahu kita bahwa keputusan yang mereka ambil bukan saja baik untuk mereka sendiri melainkan juga baik bagi kepentingan Roh Kudus. Terlihat jelas di sini bahwa mereka sangat mempertimbangkan kepentingan Tuhan dibandingkan dengan kepentingan mereka sendiri. Mereka senantiasa menghormati kepentingan Tuhan dibandingkan dengan kepentingan mereka sendiri.
Satu hal yang perlu kita syukuri, sebagai orang percaya Roh Kudus hadir senantiasa rindu memimpin dan menuntun langkah hidup kita. Hanya datang dengan segala kerendahan hati dan bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus maka kita senantiasa ada di dalam pimpinan dan penyertaan-Nya.

Dalam kisah ini kita juga belajar bahwa sekalipun Roh Kudus memimpin kita namun bukan berarti semua berjalan “mulus”. Ujian dan berbagai masalah masih harus kita hadapi, namun semua itu sudah seharusnya tidak membuat kita menyerah namun justru sebaliknya kita tetap maju dan tidak menyerah mengingat Roh yang ada di dalam kita jauh lebih besar dari semua tantangan yang sedang kita hadapi. “Terima kasih Roh Kudus buat penyertaan dan pertolongan-Mu” Amin.

Friday, 2 May 2014

“Dianggap Benar” (Kis. 15:1-21)


“Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. "
Kis. 15:8-9
Seorang pemuda datang kepada saya dan mengatakan ia tidak betah tinggal di rumah, dengan alasan bahwa apapun yang ia lakukan, selalu salah di mata orang tuanya. Dia mengatakan hampir tidak pernah ada satupun yang dianggap benar oleh orang tuanya, padahal ia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Perasaan selalu dianggap salah juga seringkali terjadi pada pasangan suami isteri, yang mana selalu dianggap salah oleh pasangannya. Diperlukan anugerah untuk bisa menerima keberadaan anak-anak dan pasangan hidup kita yang jauh dari sempurna.
Begitu pula keberadaan kita di hadapan Tuhan; sebagai manusia berdosa, kita sangat menyimpang dan jauh dari sempurna, namun karena anugerah Allah maka setiap orang percaya dianggap benar di hadapan-Nya. Sayangnya ada banyak orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran ini. Mereka masih merasa perlu melakukan banyak hal agar bisa dianggap benar oleh Tuhan. Hal-hal inilah yang ditentang oleh Paulus, Barnabas (2), Petrus (7), dan Yakobus (13), dimana ketika itu ada ajaran yang mengajarkan bahwa orang Kristen masih harus disunat dan menjalankan hukum Musa (5) agar bisa dianggap benar di hadapan Tuhan.

Para rasul-rasul ini kembali menjelaskan karena kasih karunia (11) mereka diselamatkan oleh iman (9, Ef. 2:8); ini bukan hasil usaha manusia jangan ada yang memegahkan diri (Ef. 2:9). Kita dianggap benar karena pengorbanan darah Yesus di atas kayu salib, bukan karena perbuatan yang kita kerjakan. Sebaliknya kita diciptakan untuk berbuat baik (Ef. 2:10); perbuatan baik sudah seharusnya kita lakukan dan tidak ada yang perlu kita banggakan baik di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Puji nama Tuhan karena setiap kita yang percaya kepada Yesus, sudah dianggap benar di hadapan Allah. Tuhan memberkati.

Sunday, 27 April 2014

“Kepada Allah Yang Tidak Dikenal” (Kis. 17:16-34)

“Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu"
Kis. 17:23
Frans de Waal, ahli primata ternama dunia, ahli biologi di Emory University dan direktur Living Links Center di Yerkes Primate Center di Atlanta mengatakan bahwa manusia bisa percaya Tuhan karena ia memiliki moral yang baik. Jawaban De Waal didasarkan atas hasil penelitian selama bertahun-tahun pada perilaku primata besar seperti simpanse dan bonobo (simpanse pendek). De Waal menemukan bahwa primata besar memiliki moral seperti yang dimiliki oleh manusia. Simpanse memiliki rasa keadilan, kasih dan kesatuan, sama seperti manusia. Secara tidak langsung De Waal menyamakan keberadaan manusia dengan primata besar. Sekalipun De Waal seorang yang sangat “pintar” dan memiliki pengetahuan yang banyak namun ia sebenarnya tidak mengenal dirinya sendiri sebagai manusia dan tidak mengenal siapa Allah yang menciptakan manusia.
Hal ini membuktikan bahwa kepandaian dan pengetahuan yang tinggi tidak menjamin seseorang bisa mengenal Allah. Golongan Epikuros dan Stoa merupakan para pemikir dan ahli filsafat yang sudah ada sejak 300 tahun sebelum Yesus lahir. Kepandaian kedua golongan ini sebagai pemikir tidak perlu diragukan lagi, bagi mereka mencari pengetahuan yang baru adalah di atas segalanya. Mereka tidak punya waktu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru (21). Sekalipun demikian, mereka tidak bisa mengenal Allah, Paulus menjumpai mezbah yang bertuliskan “Kepada Allah yang tidak dikenal.”
Yesus datang ke dunia untuk menjadi perantara manusia berdosa dengan Allah, sehingga kita bisa mengenal Allah. Melalui Yesus, kita datang kepada Allah yang kita kenal, bukan kepada Allah yang tidak kita kenal. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya dan bertahta di sorga bukan diam di kuil-kuil buatan tangan manusia (24). Allah yang berdaulat dan berkuasa, yang di dalam-Nya kita hidup dan bergerak (28). Allah yang akan menghakimi dunia dan manusia dengan adil (31). Amin.