Tuesday, 20 March 2012

THE GREAT SURRENDER


TEXT: Mat 26; Mar 14; Luk 22; Yoh 18

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
Mat 14:34-36
Keempat Kitab Injil mencatat ada banyak peristiwa yang terjadi di hari Kamis atau satu hari sebelum Yesus ditangkap, diantaranya:
  1.  Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya
  2.  Yesus memberitahu bahwa murid-murid-Nya akan tergoncang imannya, serta memberitahu Petrus bahwa ia akan menyangka-Nya sebanyak tiga kali
  3. Yesus menghibur murid-murid-Nya dan menjanjikan kehadiran Roh Kudus yang akan menjaga, memelihara dan menyertai mereka setelah Yesus tidak ada lagi ditengah-tengah mereka.
  4. Yesus memberikan perintah untuk saling mengasihi
  5. Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya
  6.  Yesus melakukan perjamuan makan Paskah dengan murid-murid-Nya
  7.    Yesus berdoa dan ditangkap di Taman Getsemani

Di Taman Getsemani inilah terjadi satu peristiwa penting dimana Yesus berdoa dan mengalami pergumulan berat sehubungan diri-Nya akan ditangkap dan disalibkan. Disinilah Yesus mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga ketika Ia berdoa peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk 22:44). Yesus meminta kepada Bapa di Sorga untuk melewatkan kematian yang mengerikan ini. Namun demikian di dalam menghadapi situasi yang sulit ini, Yesus tidak memaksakan kehendak-Nya melainkan Ia meminta agar kehendak Bapa-Nya yang terjadi.
Apa yang dikatakan Yesus kepada Bapa-Nya merupakan satu penyerahan diri yang luar biasa. Yesus rela menderita bahkan mati di kayu salib asalkan rencana dan kehendak Bapa-Nya digenapi. Yesus percaya bahwa kehendak Bapa-Nya sempurna dan yang terbaik.
Mari kita belajar dari Yesus untuk tidak segan-segan berdoa dengan sungguh-sungguh bagi semua pergumulan hidup kita, mintalah kepada Tuhan apa yang menjadi keinginan kita, namun kita juga harus menyerahkan semua keputusan terakhir di tangan Tuhan, apapun jawaban yang diberikan Tuhan kita harus menerimanya karena itu pasti yang sempurna dan yang terbaik. Tuhan memberkati.

Tuesday, 13 March 2012

COUNTDOWN TO GLORY


Text:  Mat 26; Mar 14; Luk 22; Yoh 13

“Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
Mat 26:12-13
Hari Rabu yaitu dua hari sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, Yesus berada di rumah Simon si kusta di Betania. Ada dua hal penting yang dicatat secara khusus di hari Rabu tersebut, yaitu Yesus di urapi oleh Maria dan Yudas Iskariot mengambil keputusan untuk menghianati Yesus. Melalui kedua peristiwa ini Alkitab mengajarkan satu hal yang penting, yaitu seberapa tinggi kita menghargai Yesus dalam hidup ini.
Peristiwa pertama menuliskan Maria datang mengurapi Yesus dengan minyak narwastu yang sangat mahal harganya. Biasanya orang menggunakan minyak tersebut hanya setetes demi setetes, namun Maria justru menggunakan semuanya untuk mengurapi Yesus. Maria menyatakan kasihnya kepada Yesus melebihi dari segala harta yang ia miliki. Untuk menyatakan kasihnya kepada Yesus, Maria rela mengorbankan apa saja termasuk hartanya.
Peristiwa yang kedua dimana Yudas, salah satu murid Yesus datang kepada imam-imam kepala dan menawarkan untuk menyerahkan Yesus, untuk ini Yudas menerima uang sejumlah tiga puluh keping perak. Dan sejak itu Yudas mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus.
Sebenarnya ada kesamaan dalam perisitwa ini, yaitu dalam hal bagaimana Maria dan Yudas mengasihi Yesus melalui harta yang mereka miliki. Maria mengasihi Yesus dengan memberikan seluruh hartanya bagi Yesus, sedangkan Yudas “mengasihi” Yesus untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Sikap hati Maria terhadap kasihnya kepada Yesus di dalam menggunakan hartanya berlawanan dengan sikap Yudas.
Bercermin dari kedua sikap tersebut, yang manakah sikap yang kita miliki di dalam mengasihi Yesus? Sudah seharusnya kita memiliki sikap seperti Maria, yang memberikan segalanya demi mengasihi Yesus. Berjaga-jaga dan berdoalah senantiasa agar kita tetap memiliki sikap yang mau memberikan yang terbaik kepada Yesus sebagai ungkapan kasih kita kepada-Nya. Amin,

Wednesday, 7 March 2012

A JOURNEY TO THE CROSS


“Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
Markus 14:34-35
Tanpa terasa hanya kurang dari satu bulan lagi kita akan merayakan hari Jumat Agung dan hari Paskah. Hari perayaan yang sangat penting, bukan saja bagi orang Kristen melainkan juga bagi semua kehidupan manusia di muka bumi ini. Hari Jumat Agung atau hari kematian Yesus dan hari Paskah sebagai hari kebangkitan Yesus dari kematian merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan hari Natal atau hari kelahiran Yesus begitu pula dengan hari kenaikan Yesus dan hari kedatangan-Nya yang kedua kali kelak. Semua itu merupakan peristiwa penting yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Sehubungan dengan hari Jumat Agung dan hari Paskah tahun ini, kita akan belajar, peristiwa apa saja yang terjadi atau apa yang dialami Yesus beserta murid-muridnya dua hari sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan. Selanjutnya kita juga akan belajar bagaimana dan apa dampaknya peristiwa kebangkitan Yesus bagi umat manusia.

Ke semua peristiwa ini akan kita pelajari mulai minggu depan melalui khotbah seri dengan tema “A JOURNEY TO THE CROSS” yang akan dibagi menjadi empat kali pertemuan dengan sub tema sebagai berikut:
1.     Countdown to Glory (Mar 18, 2012)
2.     The Great Surrender (Mar 25, 2012)
3.     The Ultimate Sacrifice (Apr 1, 2012)
4.     The Greatest Victory – He’s Alive (Apr 8, 2012)

Saya mengajak semua jemaat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam menyambut hari Jumat Agung serta hari Paskah ini, agar setiap kita bukan hanya lebih memahami dan namun lebih dari itu bisa mengalami kuasa darah Yesus serta kebangkitan-Nya dalam hidup kita. Dan jangan lupa untuk mengundang teman-teman kita yang belum bergereja untuk hadir. Tuhan memberkati.


Sunday, 4 March 2012

FAITH IN ACTION (Nehemia 2:9-20)



"Aku menjawab mereka, kataku: “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun”
Neh 2:20

Melalui pertolongan Tuhan maka raja Artahsasta menyetujui kerinduan Nehemia untuk membangun tembok dan gerbang Yerusalem seperti yang diberikan Tuhan di dalam hatinya (ayat 12). Surat perintah, dan bahan-bahan yang diperlukan telah Nehemia miliki. Kini Nehemia berjalan dan meninggalkan kerajaan dimana ia bekerja dan mulai melangkah ke Yerusalem.

Ternyata musuh-musuhnya mengetahui rencana Nehemia, sehingga Nehemia mendapatkan tantangan dan perlawanan dari mereka. Musuh-musuhnya menghina dan  mengolok-olok serta berusaha untuk melemahkan bahkan menakut-nakuti Nehemia agar Nehemia membatalkan pembangunan tembok dan gerbang Yerusalem (ayat 10, 19). Menghadapi situasi seperti itu, Nehemia tidak menyerah bahkan ia terus melangkah dengan rencananya karena Nehemia percaya bahwa ia pasti berhasil sebab tangan Tuhan akan menyertainya dan membuatnya berhasil.

Kisah ini mengajarkan bahwa sekalipun kita sedang mentaati kehendak Tuhan dengan berjalan di dalam rencana-Nya, bukan berarti semua akan berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan. Tidak selalu hambatan yang kita hadapi karena kita sedang berdosa atau melanggar kehendak Tuhan. Tetapi pada saat kita mengasihi dan taat kepada Tuhan seringkali hambatan itu harus kita hadapi. Di dalam menghadapi situasi dan keadaan seperti itu sudah seharusnya kita mengambil sikap yang sama dengan Nehemia, tidak menyerah dan maju terus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Percaya bahwa Tuhan akan menolong dan membuat perjalanan kita berhasil.

Mengampuni, mengasihi “musuh”, rajin belajar, jujur, berdoa, membaca dan belajar firman Tuhan, bertanggung jawab dan berusaha hidup kudus merupakan contoh-contoh dimana kita sedang melakukan kehendak Tuhan. Sekalipun itu semua menyenangkan hati Tuhan namun bukan berarti Iblis dan kedagingan kita akan tinggal diam, ia akan berusaha menghalangi kita melakukannya. Hendaklah kita terus melangkah melakukan semua itu dengan menaruh iman kita kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan akan membuat perjalanan kita berhasil. Selamat Berjuang. 

Thursday, 1 March 2012

BEBAS DARI PENJARA


Bacaan Alkitab: Filipi 1:20-24
20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik;24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

Kehidupan manusia di dunia saat ini sedang dipenuhi oleh orang-orang yang di “penjara” oleh rasa malu. Mereka malu:
1.   Karena miskin
2.   Karena tidak cantik atau ganteng
3.   Karena sakit
4.   Karena tidak sukses
5.   Karena tidak sempurna (gemuk, kurus, tinggi, pendek, hitam, sipit)
Dan rasa malu lainnya.

Sudah seharusnya sebagai orang Kristen kita tidak seharusnya malu dengan kenyataan hidup yang kita miliki, karena hidup ini jauh lebih penting daripada sekedar memiliki kekayaan, kesehatan, cantik, ganteng dan awet muda. Satu kali Dietrich Bonhoeffer di dalam penjara menuliskan khotbah bagi keponakannya yang akan menikah. Ia mengatakan bahwa pernikahan lebih dari sekedar keadaan saling mencintai. Pernikahan lebih dari sekedar mengejar kebahagiaan bersama antara suami dan isteri. Pernikahan adalah satu status atau kedudukan yang diberikan dan dipercayakan Tuhan kepada orang-orang yang menikah (Larry Christenson – The Christian Family).

Menurut saya perkataan Dietrich B., merupakan satu kebenaran, bahwa kehidupan lebih dari sekedar kepuasan pribadi, sebaliknya kehidupan merupakan satu status atau kedudukan yang diberikan Allah demi kepentingan Allah. Mengapa ada banyak orang yang sekarang sekalipun ada di luar penjara namun kehidupan senantiasa ada di dalam “penjara”, karena mereka tidak memahami arti dan tujuan hidup yang Allah berikan.

Sebaliknya Paulus yang justru ada di dalam penjara ia hidup di luar “penjara”. Ia bebas dan tidak merasa malu dengan keberadaannya yang disamakan dengan para penjahat. Paulus di penjara secara fisik tapi “kehidupannya” bebas. Mengapa demikian? Karena Paulus tahu akan misi dan visi di dalam hidupnya. Ia tahu bahwa hidup lebih dari sekedar memiliki kekayaan, kesehatan, dan hal-hal yang bersifat jasmani lainnya. Kehidupan yang ia miliki adalah satu kesempatan yang harus dijalani untuk menggenapi panggilannya sebagai orang Kristen.

Saudara melalui uraian firman Tuhan ini, kita bisa melihat bahwa apa yang dialami oleh Paulus merupakan satu perisitwa yang sangat serius. Ini adalah urusan hidup dan mati. Kita bisa melihat bahwa Paulus sangat terdesak dan sangat menderita. Perkataan Paulus di ayat 23, yang mengatakan: “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik;’, merupakan satu bukti bahwa sebenarnya Paulus sudah tidak ingin hidup lagi. Sepertinya jika boleh memilih Paulus sudah tidak ingin hidup di dunia ini, saking menderitanya.

Namun kita harus memperhatikan perkataan Paulus selanjutnya di ayat 24, yang mengatakan bahwa lebih perlu untuk tinggal di dunia ini demi kepentingan jemaatnya. Menurut saya perkataan ini merupakan perkataan yang menunjukan sifat dan karakter Yesus. Bagaimana Paulus sungguh-sungguh memanfaatkan kehidupan yang diberikan oleh Tuhannya. Paulus sadar bahwa ia hidup bukan untuk mementingkan kepuasan dirinya sendiri. Ia ada di dunia untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Paulus menyadari bahwa ia tidak bisa mengatur hidup dan matinya, semua itu tergantung kepada Tuhan si Pemberi hidup, yang ia bisa lakukan adalah bagaimana menjalani kehdupan yang Tuhan percayakan kepadanya.
Sebelumnya di ayat 22, ia mengatakan bahwa jika ia harus hidup di dunia ini dan tidak ada pilihan lainnya maka kehidupannya adalah untuk bekerja dan memberikan buah. Kehidupan yang memberi arti bagi sesamanya.  

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah ada hal-hal yang “memenjarakan” kita, entah itu masalah kekayaan, kehormatan, ketidak-sempurnaan secara fisik atau hal-hal lainnya? Mari kita belajar dari Paulus untuk ke luar dari “penjara” tersebut dengan membawa kehidupan ini untuk lebih berarti bagi sesama kita. Isteri, suami, anak-anak dan temen-temen kita memerlukan keberadaan kita.

Seringkali kita mendengar kehidupan orang Kristen adalah kehidupan untuk memuliakan Tuhan, bagaimana hal ini digenapi? Salah satu yang Paulus ajarkan adalah dengan menghasilkan buah. Tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama lagi kita diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, hanya Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang kita tahu bahwa kalau Tuhan masih memberikan kehidupan sampai saat ini, inilah waktunya hidup kita menghasilkan buah. Amin.





Sunday, 26 February 2012

CALLING (Nehemia 2:1-20)


"Jawabku kepada raja: “Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”
Neh 2:3
Sebagai penyedia minuman raja, kehidupan Nehemia sudah sangat tercukupi. Ia dipercaya oleh raja dan memiliki kekuasaan yang tinggi, dihormati oleh banyak orang. Keluarganya terjamin dan masa depannya baik. Ketika Nehemia diberitahu tentang keadaan bangsa Israel di Yerusalem yang mana tembok dan pintu gerbangnya hancur, ia menjadi sangat sedih. Berbulan-bulan Nehemia terus menerus sedih hingga akhirnya raja mengetahui kesedihan yang sedang dialami oleh Nehemia. Rupanya kekuasaan, uang dan jabatan yang dimiliki oleh Nehemia tidak membuat ia puas dan mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Nehemia berani mengambil langkah penting yaitu keluar dari kehidupan yang nyaman (comfort zone) untuk menjalankan panggilan Tuhan dalam hidupnya (Neh 2:12). Nehemia sadar bahwa dirinya ada di dunia ini bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan untuk memulihkan tembok Yerusalem.

Kisah ini mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus, sebagai Anak Allah, Ia berkuasa dan memiliki seluruh isi alam semesta ini. Sebagai Allah, Yesus memiliki kebahagiaan dan kepuasan yang sejati, namun Yesus mau meninggalkan semua itu, dan dengan segala kerendahan hati Ia mau menjadi seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia bahkan Ia rela dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Yesus melangkah keluar dari kenyamanan-Nya untuk memulihkan hubungan manusia berdosa dengan Allah. Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib maka setiap orang yang mengaku dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya akan diselamatkan. Dosanya diampuni dan memperoleh kehidupan kekal di surga.

Biarlah melalui Perjamuan Kudus hari ini, hati kita penuh dengan pengucapan syukur atas semua yang telah Yesus lakukan dalam hidup manusia. Mari kita meneladani Nehemia maupun Yesus yang mana hidupnya digunakan bukan hanya untuk kepentingan pribadinya saja melainkan demi untuk kepentingan orang banyak.