Thursday, 9 May 2013

Mother’s Day: Real Commitment



“Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:”
Amsal 31:27-28

Jika kita melihat seorang pemimpin, presiden, pengusaha, dokter atau pendeta yang sukses yang kita hormati dan teladani; seringkali kita tidak memperhatikan bahwa ada seorang wanita di balik kesuksesan mereka, yakni seorang ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Jauh sebelum mereka bisa makan, mandi dan berjalan sendiri, seorang Ibu telah melindungi, merawat, mendisiplin dan mendewasakannya. Seorang ibu yang penuh kasih dan komitmen untuk mengorbankan segala sesuatu demi kehidupan dan keberhasilan anaknya.
Begitu pula setiap kita ada seperti sekarang ini, dikarenakan ibu yang telah melakukan segalanya buat kita. Seorang ibu yang tidak mementingkan dirinya sendiri, seorang ibu rela bangun tengah malam untuk menyusui dan menyeka keringat pada waktu kita kepanasan. Seorang ibu yang rela terjaga dan selalu mengkuatirkan anaknya yang sakit. Seorang ibu yang was-was ketika anaknya mulai memiliki banyak teman. Seorang ibu yang selalu menguatirkan kesehatan anaknya; yang selalu mendoakan keselamatan, pekerjaan dan kesejahteraan anaknya. Bahkan dalam banyak hal seorang Ibu rela direndahkan dan dihina oleh anaknya demi masa depan dan kebahagiaan anaknya.
Seorang ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi anaknya. Ibu yang berkarya di “belakang layar” demi keberhasilan anaknya di “depan layar.” Sekalipun ibu kita bukanlah seorang ibu yang sempurna, yang pernah berbuat salah atau mungkin pernah menyakiti kita, namun ia adalah ibu yang telah mengandung dan melahirkan kita.  Di hari yang khusus ini biarlah kita mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia telah memberikan seorang ibu yang telah mendewasakan kita, membimbing kita, mendisplin kita, mengajar kita, mengasihi kita, membawa kita kepada Tuhan. Dan marilah terus mendoakan dan mengasihi ibu kita, dan jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih atas semua yang telah dikerjakanya kepada kita. Tuhan memberkati.

Thursday, 2 May 2013

Jangan Mencobai Tuhan (Kis. 5:11)



“Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.”
Kis. 5:9
Dosa Ananias dan Safira adalah mencobai Tuhan. Dalam kasus ini mereka berdua berdusta kepada para rasul dan kepada jemaat. Mereka mengaku memberikan semua hasil penjualan tanah yang dimilikinya padahal mereka hanya menyerahkan sebagian saja dan mengambil sebagian untuk mereka sendiri. Seharusnya tidak menjadi masalah berapapun yang mereka berikan asal jangan berdusta (4). Petrus menegur Ananias dan Safira bahwa dusta yang dilakukannya sebenarnya ditujukan kepada Roh Tuhan. Ini bukan hanya urusan sesama manusia melainkan urusan manusia dengan Roh Tuhan.
Dalam hal ini Ananias dan Safira mencobai Roh Tuhan sedikitnya dalam tiga hal:
1.     Kemurahan hati Tuhan
Ananias dan Safira berpikir bahwa Tuhan adalah Tuhan yang murah hati dan pengampun maka berbohong sedikit tidak menjadi masalah, Tuhan pasti mengampuni, toh apa yang dilakukan merupakan satu “kebaikan”, yaitu menolong orang-orang miskin.
2.     Kekudusan Tuhan
Ananias dan Safira memandang rendah kekudusan Tuhan. Mereka berpikir Tuhan bisa kompromi dengan dosa-dosa “kecil”.
3.     Kemuliaan Tuhan
Ananias dan Safira mencoba untuk mengambil kemuliaan Tuhan. Pada saat itu pekerjaan Roh Kudus sangat luar biasa, setiap orang tahu bahwa karena Roh Kuduslah maka para rasul bisa melakukan berbagai macam mujizat. Roh Kudus yang menjadi pusat ibadah dan penyembahan jemaat. Ananias dan Safira berdusta supaya mereka yang menjadi pusat perhatian bukan Roh Kudus lagi. Mereka sedang mencuri kemuliaan Tuhan.
Mencobai Tuhan merupakan dosa yang besar di hadapan Tuhan. Kisah bangsa Israel yang dipagut ular (Bil. 21:4-9) dan juga kisah Akhan (Yos. 7) merupakan bukti bahwa Tuhan tidak segan-segan menghukum setiap orang yang mencobai diri-Nya. Yesus mengatakan, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Mat. 4:7; Luk. 4:12).
Bagaimana bisa terhindar dari dosa mencobai Tuhan, hendaklah  senantiasa berdoa dan berjaga-jaga setiap hari, meminta pertolongan Roh Kudus untuk menjaga hati atau pikiran kita. Amin.

Tuesday, 23 April 2013

Tragedi di Yerusalem vs Tragedy di Boston (Kis. 4:32-37)



“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.”
Kis. 4:32

Tanggal 15 April 2013 dunia dikejutkan dengan ledakan bom di tengah-tengah acara Boston Marathon. Dua bersaudara yaitu Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev sebagai tersangka utama dapat diketahui dan ditangkap dalam waktu kurang dari satu minggu. Dengan didasari rasa marah dan rasa takut  akan peristiwa ini terulang kembali, serta demi hukum yang ditegakan seadil-adilnya maka masyarakat setempat, FBI, tentara, dan kepolisian bahu membahu sehati dan sejiwa berusaha menangkap pelaku secepatnya. Melalui kerja sama ini maka kita bisa melihat kasus ini bisa diungkap dengan begitu cepat.
Kis. 4:32-37, mengajarkan hal yang sama, pada saat jemaat mula-mula diperhadapkan dengan masalah, khususnya masalah kebutuhan mereka sehari-hari, maka mereka saling tolong menolong satu dengan yang lainnya. Yang kuat menolong yang lemah dan yang kaya menolong yang miskin. Hanya saja yang mendasari jemaat mula-mula melakukan semua ini berbeda dengan tragedi di Boston. Jika di Boston mereka saling membantu satu dengan yang lainnya karena didasarkan pada rasa marah, rasa takut serta demi ditegakkannya keadilan maka dalam jemaat mula-mula mereka melakukannya karena didasari oleh anugerah yang telah mereka terima dari Allah.
Jemaat mula-mula tahu bahwa mereka diselamatkan oleh karena anugerah Allah; mereka menolak dan membunuh Yesus namun justru Allah mengampuni dan menyelamatkan mereka. Sama seperti Yesus yang tidak mementingkan diri-Nya sendiri namun mengorbankan diri-Nya karena mengasihi manusia berdosa maka jemaat mula-mula melakukan hal yang sama dengan Yesus, yaitu tidak lagi mementingkan diri sendiri saja melainkan juga mementingkan kepentingan sesama dengan membagikan kasih.
Sudah seharusnya jemaat yang tergabung dalam gereja saling memperhatikan dan mengasihi, sehingga menjadi teladan bagi orang-orang belum percaya. Ini saatnya kita mengembalikan citra kasih di dalam gereja dengan demikian maka Injil diberitakan melalui perbuatan kasih.

Thursday, 18 April 2013

BERDOALAH DI TENGAH TEKANAN YANG MENGHIMPIT (Kis. 4:23-31)


BERDOALAH DI TENGAH TEKANAN YANG MENGHIMPIT (Kis. 4:23-31)
“Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Kis. 4:29

Pada saat diperhadapkan dengan masalah yang tidak bisa dihindarinya, yaitu larangan memberitakan Injil,  Petrus dan teman-temannya mengambil sikap untuk datang dan berdoa kepada Allah. Dalam doanya mereka mengakui Tuhan sebagai pencipta langit, bumi, serta laut dan segala isinya (24). Dalam situasi yang begitu sulit dan terdesak, mereka percaya bahwa hanya Allah sang pencipta yang sanggup menolongnya. Allah yang mahakuasa sehingga tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan-Nya.
Dengan mengutip kitab Mazmur 2, mereka menerima kenyataan bahwa semua permasalahan itu terjadi karena Allah merencanakannya dan mengijinkannya. Oleh sebab itu di dalam doanya mereka tidak meminta masalah itu “lenyap” melainkan memohon pertolongan Allah memberikan keberanian untuk tetap memberitakan Injil.
Selama ada di dunia ini, mungkin kita diperhadapkan dengan satu masalah yang tidak bisa dihindari. Meski Allah sanggup mengangkatnya, namun Allah justru membiarkannya. Kadangkala kita tidak diijinkan untuk mengerti sepenuhnya mengapa semua ini menimpa kita. Namun hendaklah kita belajar menerima keadaan tersebut seperti Petrus dan teman-temannya. Percaya bahwa semua itu terjadi bukan karena kebetulan melainkan karena Allah memiliki rencana dan kehendak yang sempurna.
Sebagai mahluk ciptaan-Nya maka sudah seharusnya kita tidak berbantah dengan Allah (Yes. 45:9). Apapun yang Allah ijinkan terjadi kita harus menerimanya, perhatikan apa yang Ayub katakan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10) Perkataan ini merupakan perkataan yang penuh dengan iman, dimana Ayub percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam hidupnya diijinkan oleh Allah. Tanpa Allah mengijinkannya maka tidak ada sesuatu pun terjadi.  
Kabar baiknya adalah jika Allah mengijinkan itu terjadi maka Allah akan memberikan kekuatan untuk menghadapinya. Allah tidak pernah berjanji hidup kita tanpa masalah, yang Allah janjikan adalah Dia tetap menyertai dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Amin.

Sunday, 14 April 2013

BEKAS LUKA YANG MEMBERI PENGHARAPAN (Yoh. 20:19-29)



          
“Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Yoh. 20:28-29
Minggu yang lalu Ps. Sonny menyampaikan firman Tuhan yang diambil dari Kitab Yoh. 20:19-29, yang mana perikop ini menceritakan kisah dimana Yesus yang bangkit dari kematian mengunjungi murid-murid-Nya di suatu tempat. Dengan sangat brilliant, Ps. Sonny memberikan pertanyaan: “Pernahkah kita berpikir mengapa Yesus bangkit dengan tangan dan lambung yang masih berlubang?” Satu pertanyaan yang seringkali tidak benar-benar dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Dalam hal ini Ps. Sonny menjelaskan bahwa melalui bekas luka di tangan dan di lambung Yesus mengingatkan bahwa Yesus adakah Yesus yang pernah dilukai namun sekarang sudah sembuh. Bekas luka ini yang membuat murid-murid-Nya mengenal Yesus, yang mati di kayu salib dengan tangan dan lambung yang dilubangi. Tanpa bekas luka tersebut maka murud-murid-Nya tidak akan percaya bahwa yang muncul di hadapannya adalah Yesus yang mati di kayu salib dan bangkit (20, 27).

Setiap manusia memiliki “luka” yaitu dosa yang membelenggu hidupnya, namun bersyukur kepada Allah karena telah memberikan Yesus untuk “dilukai” di atas kayu salib sehingga semua “luka” manusia telah ditanggungnya. Tangan yang berlubang bekas paku dan lambung yang berlubang bekas tombak membuktikan Yesus mati untuk menebus semua dosa manusia. Namun Yesus tidak tetap mati, Allah membangkitkan-Nya sebagai bukti Ia menang atas dosa.

Bekas lubang di tangan dan lambung membuktikan bahwa Ia sudah mengalami semua penderitaan yang diakibatkan dosa (Ibr. 4:15), Ia yang tidak mengenal dosa telah dibuat berdosa supaya manusia dibenarkan di hadapan Allah (2Kor. 5:21).
Upah dosa adalah maut (Rom. 6:23), datanglah kepada Yesus untuk meminta pengampunan dosa, Ia adalah setia dan adil , Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1Yoh. 1:9). Tuhan memberkati.