Sunday, 8 September 2013

SAULUS BESAR MENJADI PAULUS KECIL (Kis. 9:1-10)



“Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.””
Kis. 9:4-5
Nama Saulus muncul ketika Stefanus dibunuh dengan cara dirajam batu. Saulus hadir sebagai saksi. Nama Saulus dimunculkan bukan hanya sebagai saksi saja melainkan juga ia menyetujui pembunuhan tersebut (8:1a). Setelah peristiwa itulah penganiayaan orang Kristen terjadi bukan saja terhadap para rasul namun juga dialami oleh para jemaat di Yerusalem. Sejak itu orang Kristen mulai tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria (8:1b), dan justru dengan kejadian maka Injil diberitakan sesuai dengan perintah Yesus (Kis. 1:8, 8:4; Mat. 28:19-20). Tidak berlebihan jika Saulus berusaha menghentikan pemberitaan Injil dengan menangkap dan membinasakan orang Kristen (8:3, 9:1, 26:9-11).
Nama Saulus (Ibrani) memiliki arti berkuasa atau nama “besar”. Sesuai dengan namanya, Saulus adalah seorang yang terpandang. Semua orang yang mengenalnya mengakui bahwa ia adalah seorang yang genius, memiliki pengetahuan yang sangat tinggi, seorang pengusaha, ilmuwan, sekaligus agamawan yang taat kepada Hukum Taurat. Saulus seorang yang memiliki kuasa dan kedudukan tinggi dikalangan tokoh-tokoh agama maupun kalangan orang-orang Farisi. Tidak berlebihan kalau ia bangga dengan dirinya.
Namun ketika Saulus bertobat maka namanya diubah menjadi Paulus (Yunani) yang artinya “kecil” atau tidak berarti. Perjumpaan dengan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik mengubah segalanya. Saulus menyadari bahwa dirinya adalah kecil dan hina di hadapan Allah. Perjumpaannya dengan Yesus membuka matanya betapa besarnya Allah dan betapa kecil dirinya di hadapan Allah; betapa berartinya Allah dan betapa tidak berarti dirinya. Peristiwa ini mengubah cara Saulus memandang siapa dirinya, dan apa yang menjadi tujuan hidupnya.
Yesus menjumpai kita dalam perjalanan ke “Damsyik” agar kita menyadari dan mengenal betapa besarnya Allah dan betapa kecilnya kita di hadapan Allah. Kita dipanggil dan diselamatkan agar kita memberitakan tentang Allah, bukan memberitakan kehebatan diri kita; bangga dengan Allah bukan membanggakan diri dan untuk menjalankan kehendak Allah bukan menjalankan kehendak kita. Amin.

Friday, 23 August 2013

IMAN YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK TUHAN (Daniel 3:1-30)



“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
Daniel 3:17-18
Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah para tawanan yang “beruntung” karena mereka diberikan kepercayaan untuk memerintah di wilayah Babel (Daniel 2:49). Tentu ini merupakan jabatan dan kedudukan yang sulit didapatkan oleh para tawanan seperti mereka. Sebagai pejabat tinggi pemerintahan tentu hidup mereka sangat berbeda dengan sebelumnya. Sebagai tawanan mereka hidup di dalam kemiskinan, dan ketidakpastian sedangkan sebagai pejabat tinggi mereka hidup di dalam kekayaan dan kesejahteraan. Namun semua ini tidak berlangsung lama, karena mereka diperhadapkan dengan tantangan untuk melepaskan semua itu demi mempertahankan imannya di hadapan raja dan orang-orang yang membencinya.
Raja Nebukadnezar menawarkan kemudahan yaitu hanya dengan memuja dewa dan menyembah patung emas (14-15) maka mereka akan tetap menjabat dan bebas dari hukuman. Mendengar tawaran tersebut mereka menjawab: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (16-18)
Jawaban ketiga pemuda ini merupakan pernyataan iman yang berani dan terus terang akan kesetiaan mereka untuk mentaati Allah. Mereka lebih takut berdosa kepada Allah dibandingkan dengan takut kepada manusia. Mereka lebih menghormati Allah dibandingkan dengan kehormatan atau jabatan yang bisa didapatkannya. Mereka memiliki iman yang mengandalkan dan menaati Allah tanpa menghiraukan akibat-akibatnya. Tindakan ketiga pemuda ini menunjukan IMAN YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK TUHAN.
Saya berdoa dan percaya melalui retreat yang akan kita ikuti mulai tanggal 30 Agustus 2013 – 2 September 2013, iman kita bisa dipulihkan dan dikuatkan sehingga semakin selaras dengan kehendak Allah.  Sampai jumpa di retreat.

Thursday, 15 August 2013

APAKAH PRIORITAS DALAM HIDUP KITA? (Lukas 10:38-42)



“Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.”
Maz. 73:28
 Bagaimana mengisi waktu yang TUHAN percayakan kepada kita merupakan satu hal yang sangat penting. Tanpa kita sadari hari demi hari kita jalani dengan begitu cepat, tidak peduli apakah kita sibuk dengan pekerjaan atau sibuk dengan anak-anak atau sibuk dengan hobi, pelayanan di gereja maupun kesibukan lainnya. Selama kesibukan tersebut membawa nilai yang positif sama sekali tidak salah, namun TUHAN memberikan waktu bukan hanya untuk diisi dengan kesibukan kita sendiri. TUHAN juga ingin kita mengisi waktu untuk mendekatkan diri kepada-Nya. TUHAN ingin kita mendengar dan berbicara dengan-Nya; saling mengungkapkan isi hati, baik dalam suka maupun duka, menceritakan pengalaman-pengalaman bersama keluarga, dan atau teman-teman. TUHAN adalah Bapa yang sungguh-sungguh tulus dan mengasihi setiap kita. Ia selalu rindu dan ingin dekat dengan kita sebagai anak-anak-Nya.
Yesus menegur Martha karena Martha mengundang Yesus (38) namun ia tidak memiliki waktu dengan Yesus, ia terlalu sibuk dengan banyak perkara, dan terlalu banyak kuatir dan menyusahkan diri (41). Martha tidak sadar bahwa bagi Yesus “duduk dan mendekat” kepada-Nya jauh lebih penting dibandingkan dengan kesibukan apapun yang dilakukannya. Yesus ingin mengungkapkan isi hati-Nya kepada kita. Sebagai seorang ayah, saya akan “pusing tujuh keliling” kalau tidak melihat anak-anak atau mendengar atau berbicara kepadanya. Demikian juga Bapa kita yang di surga bahkan lebih lagi karena Ia adalah Bapa yang kasih-Nya sempurna.
Sama dengan Martha, setiap orang percaya sudah mengundang Yesus masuk dalam hidupnya, biarlah Yesus menjadi TUHAN, Bapa dan Sahabat yang kita hormati dan kasihi. Mari meluangkan waktu untuk berbicara melalui doa dan mendengarkan isi hati-Nya melalui Alkitab yang kita miliki. Sesungguhnya kita pasti memiliki waktu untuk berdoa dan membaca Alkitab, asalkan kita sungguh-sungguh memprioritaskannya. Tuhan memberkati.

Friday, 9 August 2013

PENJAHAT YANG BERTOBAT (2 Sam 12:1-25)



“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”
Maz. 51:17
Daud merupakan raja bangsa Israel yang dikenal sebagai seorang raja yang bukan saja sangat berkuasa dan kaya, namun raja Daud juga dikenal sebagai seorang raja yang sangat mengasihi Allah dan memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Melalui riwayat hidupnya dan tulisan-tulisannya yang dituangkan dalam Kitab Mazmur kita bisa menyimpulkan bahwa Daud sungguh-sungguh menggantungkan hidupnya kepada Allah dan kehidupannya diberikan bagi kemuliaan Allah.
Namun di luar semua itu, Alkitab juga mencatat bahwa raja Daud pernah melakukan kejahatan besar. Kejahatan yang bisa mengkatagorikan raja Daud sebagai raja penjahat kelas kakap. Ia melakukan percabulan, perzinahan, penghianatan, ketamakan, kesombongan mentang-mentang berkuasa, pencurian dan pembunuhan yang keji. Dalam hal ini nabi Natan menegur raja Daud dengan mengatakan bahwa ia sudah menghina dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN (9). Mendengar teguran tersebut Daud menyadari dosa-dosanya (13) dan ia berbalik kepada TUHAN dan meminta pengampunan dari-Nya yang kesemuanya itu ia tuangkan di dalam Kitab Mazmur pasal 51.
Peristiwa ini mengajarkan satu hal yang sangat penting kepada kita sebagai orang Kristen, yaitu pertobatan. Pada saat kita jatuh ke dalam dosa, Daud mengajarkan untuk kita langsung menyadari dosa-dosa yang telah kita lakukan dan datang dengan segala kerendahan hati kepada TUHAN untuk meminta pengampunan dan bertobat. MENDEKATLAH kepada-Nya.  TUHAN tidak pernah memandang hina orang yang sungguh-sungguh datang dengan jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk meminta pengampunan dari-Nya. Ia akan mengampuninya (1 Yoh 1:9).
Adakah dosa yang belum kita akui di hadapan TUHAN? Inilah saatnya kita mendekat dan berbalik kepada-Nya. Ingat  TUHAN  menghargai penjahat kelas kakap yang datang berbalik kepada-Nya. TUHAN memberkati. 

Friday, 2 August 2013

Menjawab kerinduan hati Tuhan (Gal 5:1-26)



“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,”
Gal 5:24-25
Tuhan Yesus mati di atas kayu salib bukan hanya untuk menyelamatkan kita dari dosa yang membawa maut saja namun juga supaya orang percaya menyalibkan (mematikan) perbuatan daging. Seperti yang Paulus katakan perbuatan daging yaitu, “Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Setiap orang percaya dipanggil untuk merdeka (lepas) dari dosa melalui anugerah (13), oleh sebab itu jangan menyia-nyiakan anugerah ini sebagai kesempatan untuk berbuat dosa (14).
Sebagai manusia seringkali tergoda untuk berpikir bahwa “wajar” kita jatuh dalam dosa, dan adalah mustahil untuk tidak jatuh dalam dosa. Memang orang percaya tidak mungkin benar-benar lepas dari perbuatan dosa selama ada di dunia ini, oleh sebab itu Yohanes mengingatkan untuk datang kepada Yesus ketika jatuh dalam dosa dan meminta pengampunan atas dosa-dosa yang kita telah perbuat (1 Yoh. 1:9), namun yang Paulus maksudkan adalah janganlah hidup hanya untuk memuaskan hawa nafsu kedagingan (24), dan menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang telah kita terima.
Bagaimana agar orang percaya bisa lepas dari perbuatan daging? Paulus menasihatkan agar kehidupan orang percaya dipimpin oleh Roh (16, 18). Roh di sini adalah Roh Kudus yang tinggal di dalam diri orang percaya. Melalui kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang percaya maka setiap orang percaya bukan saja hidup (Ef. 2:4-5) namun juga dimungkinkan untuk tidak berbuat dosa. Dipimpin oleh Roh artinya dikendalikan oleh Roh Kudus, dimana tidak lagi membiarkan hawa nafsu kedagingan menguasai hidup kita namun sebaliknya kita hidup untuk memuaskan Roh Kudus dengan mentaati perintah-perintah-Nya. Inilah kerinduan hati Tuhan, marilah kita hidup memuaskan kerinduan hati Tuhan dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan daging.