Thursday, 6 February 2014

CIRI-CIRI ORANG KRISTEN (Kis. 13:1-3)


“Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”
Kis. 13:2
Satu kali Cessare Lombroso (kriminolog Itali) memeriksa mayat seorang penjahat bernama Vilella, dan ia mengambil kesimpulan bahwa ciri-ciri seorang penjahat adalah: memiliki rahang yang besar, tulang pipi yang tinggi, ada tonjolan melengkung pada alis, memiliki garis-garis tegas pada telapak tangan, memiliki tato, malas dan memiliki penglihatan yang sangat tajam. Pendapatnya tersebut ia tulis dalam bukunya pada tahun 1876 berjudul “Manusia Penjahat”. Sekalipun kebenarannya cukup diragukan namun ada kemungkinan kita akan merinding dan memanjatkan doa terus menerus jika satu malam di tempat yang sepi berpapasan dengan orang yang memiliki ciri-ciri yang Lomborso kemukakan.
Seseorang akan lebih mudah dikenali jika diketahui ciri-ciri yang dimilikinya. Polisi akan memberitahu masyarakat luas akan ciri-ciri seorang penjahat yang sedang diburunya. Begitu pula seseorang akan dikenal sebagai orang Kristen karena ia memiliki ciri-ciri yang khusus. Beda dengan orang Kristen “KTP”, artinya orang yang menamakan dirinya Kristen namun kehidupannya tidak sama dengan ciri-ciri orang Kristen yang seharusnya.
Melalui jemaat di Antiokhia, kita bisa menyimpulkan sedikitnya ada tiga ciri-ciri yang menunjukan seseorang adalah orang Kristen. Ciri yang pertama adalah seorang yang memiliki hubungan intim dengan Tuhan. Senantiasa berdoa dan menyempatkan diri untuk berpuasa. Ciri yang kedua menunjukan bahwa ia adalah seorang yang taat akan perintah Tuhan. Dan ciri yang ketiga, ia adalah seorang yang dengan rela hati memberitakan Kabar Baik/ Injil.

Ketiga ciri-ciri tersebut semuanya dilakukan oleh Yesus semasa hidup-Nya. Mari introspeksi diri kita sebagai orang percaya, apakah kita memiliki ketiga ciri-ciri tersebut di atas? Apakah kita seorang Kristen yang memiliki kerinduan untuk berdoa, rindu untuk mentaati perintah-perintah-Nya dan rindu untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang yang terhilang? Dengan melakukan ketiga hal tersebut maka dunia akan melihat bahwa kita adalah orang KRISTEN yang benar-benar KRISTEN.  AMIN.

Friday, 31 January 2014

BANGUN DARI KOMA


“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Kis. 1:8
Salah satu berita duka bagi dunia olah raga, khususnya pecinta adu balap mobil ialah Michael Schumacher, juara dunia tujuh kali Formula 1, mengalami kecelakaan saat bermain ski, 29 Desember 2013 yang lalu. Saat ini Michael dalam kondisi koma dan dokter sedang berusaha untuk membangunkan Michael dari komanya, dengan mengurangi sedikit demi sedikit dosis obat tenang yang selama ini dikonsumsinya. Selama satu bulan ini dokter berusaha untuk membantu Michael bertahan hidup, maka dengan mengurangi obat penenang diharapkan dapat merangsangnya agar bisa sadar dari koma.
Tanpa disadari seringkali keberadaan kita sebagai orang Kristen sama dengan keberadaan Michael yang menderita “koma” di hadapan Tuhan dan sesama. Keberadaan kita tidak memberikan “kehidupan” dan dampak bagi sesama kita. Hanya “tidur dan berbaring” tidak melakukan apapun bahkan sebaliknya berharap orang-orang melayani kita.
Pengorbanan Yesus di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian mengingatkan kepada kita, anak-anak-Nya untuk bangun dari “koma” dan hidup sebagaimana harus hidup sesuai dengan panggilan-Nya. Janji Allah untuk memberikan kuasa kepada orang percaya untuk menjadi saksi-saksi-Nya (Kis. 1:8) berarti Allah sudah menetapkan setiap orang percaya berada di dalam misi-Nya, yaitu menjadi saksi-saksi-Nya yang hidup. Dengan demikian maka menjadi saksi Allah bukan satu pilihan melainkan satu keadaan yang harus kita terima dan jalani sebagai konsekuensi dari keselamatan yang telah kita terima.

Sesuai dengan tema gereja kita tahun ini “Our Lives on Mission”, maka inilah saatnya kita “bangun dari koma” dan kembali hidup sebagaimana yang Allah rindukan, yaitu hidup dan berjalan di dalam misi-Nya. Menjadi saksi-saksi-Nya dimanapun kita berada, apapun status yang kita miliki dan apapun yang sedang kita kerjakan. Dengan demikian maka kita tidak hanya bertahan untuk hidup melainkan membawa kehidupan bagi sekitar kita. Amin.

Thursday, 23 January 2014

TUHAN Melaksanakan Rencana-Nya (Kis. 12:24)


“Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,.. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”
Yes. 46:10b, 11b
Satu kali saya pergi ke pet shop untuk membeli ikan, setibanya di sana saya memilih beberapa ekor ikan dari sekian banyak ikan yang dijual di toko tersebut. Ketika pegawai toko menangkap ikan-ikan yang saya pilih, ikan-ikan tersebut berlari dan bersembunyi terlihat ketakutan, ikan-ikan tersebut tidak tahu bahwa rencana saya untuk memelihara dan memberikan “fasilitas” yang jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di toko tersebut. Akhirnya rencana saya terlaksana untuk membawa semua ikan-ikan yang saya inginkan ke rumah.
Pengalaman yang sama juga dialami oleh kekristenan abad permulaan, sekalipun ada begitu banyak tekanan, penganiayaan bahkan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen, namun rencana Tuhan untuk menyebarkan Injil mulai dari Yerusalem, Yudea. Samaria dan sampai ke ujung bumi tetap terlaksana (Kis. 1:8).  Rencana Tuhan pasti terlaksana dan tidak ada hal apapun yang bisa menghambat-Nya. Saat itu para ahli agama dan pemerintah yang berusaha menghambat bahkan memusnahkan kekristenan namun rencana dan kehendak Tuhan tetap terlaksana, di mana firman Tuhan semakin tersebar dan makin banyak didengar orang (Kis. 12:24).
Sama seperti ikan-ikan yang saya beli, mereka tidak tahu pernah mengerti rencana saya untuk memberikan yang lebih “baik” dibandingkan dengan ketika mereka ada di toko. Begitu pula kita sebagai manusia tidak akan pernah mengerti rencana Allah secara detil dan sempurna, namun rencana Allah selalu baik, itu yang senantiasa harus kita imani. Sebagai manusia, orang-orang melihat penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen ketika itu sebagai satu kegagalan dari rencana Allah.  Namun sekarang kita mengerti bahwa itu bukan satu kegagalan namun sebaliknya justru keberhasilan, dimana rencana-Nya terlaksana dengan sempurna. Kuat kuasa Allah jauh lebih besar dari usaha manusia yang berusaha menggagalkannya.

Melalui Perjamuan Kudus hari ini, mari kita mengucap syukur karena rencana-Nya menyelamatkan kita dari dosa sudah terlaksana dengan sempurna. Puji Tuhan.

Sunday, 19 January 2014

Siapakah Yang Dimuliakan? (Kis. 12:20-23)

“Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!“
Yes. 48:11
Peristiwa ini merupakan peristiwa yang mengenaskan, pada saat Herodes berada di puncak kepemimpinannya, ia harus mendapatkan hukuman Tuhan yang membawa kematian, karena ia tidak menghormati Tuhan (23). Herodes adalah seorang pemimpin yang akan melakukan apa saja asal ia disenangi orang (3), termasuk membunuh orang yang tidak bersalah, dalam hal ini Yakobus (2), bahkan ia merencanakan pembunuhan berikutnya terhadap Petrus (4), selaku pemimpin dari para rasul.
Satu hal yang Herodes tidak mengerti adalah bahwa ia hidup bukan untuk kepentingannya sendiri. Herodes tidak paham bahwa ia diciptakan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk memuliakan dirinya; ia diciptakan untuk menghormati Tuhan bukan supaya dirinya dihormati; ia ada di dunia untuk menyenangkan Tuhan bukan supaya ia disenangi; ia ada untuk meninggikan Tuhan bukan untuk meninggikan dirinya.
Memuliakan Tuhan merupakan tujuan Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini termasuk manusia. Kemuliaan hanya merupakan milik Allah, bukan untuk manusia (Yes. 42:8, 48:11). Pertanyaannya adalah dalam hidup kita “Siapakah Yang Dimuliakan?” Tuhan atau diri kita sendiri? Tidak ada seorangpun yang bisa memuliakan Tuhan sekaligus memuliakan dirinya sendiri pada saat yang bersamaan!
Apakah kita berdoa, melayani, memberi dan menjalankan hal-hal yang bersifat baik dan rohani, agar kita mendapatkan pujian dan disenangi orang atau agar berkenan dan memuliakan Tuhan? Apakah kita sedang membangun kerajaan sendiri atau sedang membangun kerajaan-Nya? Apakah kita jengkel dan kecewa ketika orang tidak memuji dan menghargai seluruh jerih payah yang kita lakukan? Jika jawabannya “Ya” maka kita tidak sedang memuliakan Tuhan.

Setiap orang dapat memuliakan Tuhan karena ia diciptakan untuk hal itu. Seorang raja, presiden, penginjil, orang cacat, kaya atau miskin semuanya dapat memuliakan Tuhan. Tuhan mengijinkan kesulitan dan kelemahan terjadi, agar nama-Nya dimuliakan. Biarlah ini menjadi kerinduan setiap kita, yaitu senantiasa memuliakan Tuhan dengan hidup kita. Amin.

Sunday, 12 January 2014

Percayalah, Tuhan Tidak Pernah Tertidur (Kis. 12:1-19)


“Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur
Penjaga Israel.“
Mazmur 121:3-4
Setelah Yakobus dibunuh, giliran Petrus ditangkap dan ditahan di dalam penjara. Petrus dijaga oleh empat regu dengan masing-masing terdiri dari empat prajurit dan kedua tangannya terbelenggu dengan rantai. Pada malam sebelum Petrus divonis, ia tertidur. Alkitab tidak menuliskan bagaimana Petrus bisa tertidur padahal ini adalah masa-masa yang sangat kritis, segala kemungkinan bisa saja terjadi keesokannya, termasuk dibunuh seperti yang dialami Yakobus.
Apa yang membuat Petrus tertidur ? Ada kemungkinan karena Petrus sama sekali tidak kuatir dan takut, hatinya penuh damai dan sukacita karena Roh Kudus memberikan kekuatan dan penghiburan. Kemungkinan lainnya karena Petrus terlalu lelah setelah mengalami penganiayaan dan penderitaan yang berat, atau juga Petrus sudah sekian lama tidak tidur sehingga saat itu Petrus benar-benar mengantuk jatuh tertidur. Apapun alasannya sebagai manusia Petrus tidak bisa tidak tidur, sebagai manusia yang terbatas Petrus perlu tidur. Dan pada saat ia tertidur, ia tidak bisa melakukan aktifitas apapun.
 Satu hal yang kita harus syukuri, TUHAN tidak pernah tidur, sebagai TUHAN, Ia tidak perlu tidur, TUHAN tidak perlu beristirahat. Pemazmur mengatakan bahwa TUHAN adalah satu-satunya Pribadi yang sanggup menolongnya. TUHAN-lah yang menjadi penjaga dan pemimpin hidupnya (Maz. 121), TUHAN-lah yang senantiasa mengawasi dan peduli (Maz. 139). Ketika Petrus tertidur, TUHAN tetap terjaga. Ketika Petrus tidak tahu harus berbuat apa, TUHAN tahu apa yang harus dilakukan-Nya. Ketika Petrus tidak tahu cara menyelamatkan dirinya, TUHAN selalu punya cara untuk menolong Petrus.
Mulai 13 sampai 20 Januari 2014, setiap jemaat dilibatkan dalam doa dan puasa, hendaklah kita melakukannya dengan tekun dan sungguh-sungguh di hadapan-Nya. Percayalah, TUHAN senantiasa mendengar doa-doa yang kita panjatkan, Ia tidak pernah tertidur, dan percayalah TUHAN selalu punya cara untuk menolong kita. Selamat berdoa puasa dan alami kuasa pertolongan-Nya. Amin.